FAKFAK-Kepala Unit Pelayanan Bandar Udara (UPBU) Torea Fakfak, Halik Genuni, kecewa dengan Pemerintah Kabupaten Fakfak yang telah berupaya mengalihkan dana optomalisasi Bandara Torea yang masuk di Kementrian Perhubungan sebesar Rp 700 Miliar untuk dialihkan pada proyek pembangunan Lapangan terbang (Lapter) Siboru yang terletak di Kampung Siboru Distrik Wartutin.

Bila alokasi dana optimalisasi Bandara Torea di alihkan untuk Pembangunan lapangan terbang Soboru maka tentunya proyek pembangunan dan perpanjangan Bandara Torea yang saat ini sedang dikerjakan bakal mandek.

“Kami (UPBU) Torea Fakfak sangat kecewa karena telah berupaya di Kemetrian Perhubungan sehingga mendapatkan alokasi dana optimalisasi Bandara Torea sebesar Rp 700 Miliar yang akan digunakan secara bertahap untuk pengembangan Bandara Torea malah kini dikabarkan lagi dana optimalisasi tersebut akan dialihkan untuk Pembangunan Bandara Siboru,” tutur Kepala UPBU Torea Fakfak, Halek Genuni, kepada Radar Sorong, diruang kerjanya,Selasa(14/11).

Menurut Halek Genuni, bila dana optimalisasi Bandara Torea yang masuk dalam APBN dan direncakan untuk tahun 2018 akan dikucurkan sebesar 35 Miliar bila dialihkan untuk pembangunan lapangan terbang Siboru maka tentunya perpanjangan Bandara Torea yang telah direncanakan penambahan 200 meter bakal tak dapat dilanjutkan pembangunannya.

“Saat ini Bandara Torea Fakfak dengan panjang 1.200 meter dan pada tahun anggaran 2017 telah ditunjang dengan alokasi dana APBN sebesar 17 Miliar untuk pembangunan perpanjang 100 meter dan tahun 2018 akan diperpanjang lagi 100 meter sehingga layak untuk di darati pesawat jenis ATR 72 seri 500 maupun 600,”tuturnya.

Selain perpanjangan Bandara Torea yang saat ini sedang dalam pekerjaan, UPBU Torea Fakfak dengan alokasi dana APBN tahun 2017 juga sedang melakukan pembangunan termina penumpang yang sangat layak.

Diakui Halek Genuni, kondisi Bandara Torea dengan panjang 1.200 meter sesungguhnya dari sisi keamanan dan kenyamanan belum layak untuk di darati pesawat ATR 72 seri 500 maupun 600.

“Kondisi Bandara Torea dengan panjang 1.200 sesungguhnya hanya dipaksakan didarati ATR 72 milik maskapai penerbangan Wings Air,”tegasnya kepada koran ini.

Kepala UPBU Torea Fakfak,Haleg Genuni, berharap agar Pemerintah Pusat tidak mengalihkan seluruh dana optimaliasi Bandara Torea untuk pembangunan Lapangan terbang Siboru.

Pasalnya, untuk kebutuhan saat Bandara Torea masih di butuhkan dalam jangka pendek sedangkan untuk Bandara Siboru masih membutuhkan waktu yang lama agar dapat di darati pesawat berbadan lebih besar dari ATR 72. (ric)